fbpx

Nilai Batik Tidak Setitik

batik-pekalongan

15 Jul Nilai Batik Tidak Setitik

Kota batik di Pekalongan …
Gadis cantik jadi pujaan …

Penggalan awal lirik lagu “Sosial Betawi Yoi” dari grup musik Slank ini boleh jadi diilhami oleh kuatnya hubungan batik dan Pekalongan. Kota yang kemudian membangun tagline World’s City of Batik ini memang tidak bisa dilepaskan dari karya seni tersebut. Dokumen sejarah menguatkan Pekalongan dan batik memang tidak terpisahkan.

Ahli sejarah dan budaya Pekalongan Moch. Dirhamsyah menjelaskan, rekam jejak batik di wilayah ini dikuatkan oleh sejumlah dokumen yang menyebut tentang batik dan bagian-bagian di dalamnya, di antaranya industri tekstil dan bahan bakunya. Buku Riding The Dutch Tiger: The Dutch Indies and The Northeast Coast of Java 1680-1743 karya L.N Nagtegaal (1996) menyinggung soal langkah Adipati Pekalongan Djayadiningrat I (1707-1726) memulai investasi indigo pada 1709 yang sebelumnya ditawarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Indigo itu bahan baku pewarna batik dan kondisi tanah di Pekalongan cocok untuk tanaman ini,” jelas Dirham. Catatan ini menegaskan bahan baku pewarna batik terbukti sudah ada dan berhasil ditanam di Pekalongan.

Jejak sejarah lainnya adalah ketika tahun 1923 Residen J.E.Jasper mengadakan Pekan Raya Pekalongan (Jaarmarkt Tentoonstelling) di alun-alun kota. Pekan raya ini dikuti 377 peserta, 120 di antaranya adalah perusahaan batik. Aktifitas ini juga menjadi dokumen penting tentang batik yang sudah menjadi industri kala itu.

Bukti dokumentasi lainnya tentang batik dan Pekalongan adalah diterbitkannya sebuah buku bertajuk Recept-Batik, Dari Kain Poetih Sampe Djadi Batik Jang Bagoes, karya Liem Boen Hwat pada 1934. “Buku ini diterbitkan oleh penerbit Pekalongan,” cerita Dirhamsyah.

Bukti lain di luar dokumen yang menguatkan sejarah keberadaan batik di Pekalongan adalah nama-nama kampung di kota ini yang identik dengan batik. Sebut saja di antaranya Kampung Pasunginan (di daerah Krakyak). Kata pasunginan dalam dunia batik diberi arti menggambar pola (batik). Kampung Medelan (daerah Sampangan) diartikan dengan “mencelup warna”, salah satu proses tahapan pembuatan batik. Lalu ada juga Kampung Ngabangan (di daerah Klego) yang diartikan sebagai merah. Merah menjadi salah satu warna yang identik dengan batik.

Sejarah batik di Pekalongan dan Batang khususnya, semakin menguat ketika memasuki fase kekuasaan Mataram Islam. Setelah perang Jawa, sejumlah pengikut Pangeran Diponegoro menetap di daerah itu dan kemudian mengembangkan usaha batik di sekitar daerah pantai seperti Pekalongan dan Batang. Corak batik yang dihasilkan pun cenderung membedakan diri dengan corak batik Mataraman sogan. Batik-batik di pesisir cenderung berani dengan warna-warna mencolok seperti merah dan biru.

Peneliti batik William Kwan Hwie Liong dalam bukunya Oey Soe Tjoen Duta Batik Peranakan (2014), menyebut corak batik pesisir ini tidak lepas dari pengaruh silang budaya antar-peradaban yang sangat kuat. Pesisir utara Jawa telah menjadi tempat kediaman dan pertemuan antar-penduduk serta pendatang dari berbagai suku bangsa. Batik pesisir ditopang oleh spirit perdagangan. Tidak heran jika berbicara batik di Pekalongan dan Batang selalu akan terkait dengan perkembangan industrinya.

Industri Strategis

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, produksi batik di Kabupaten dan Kota Pekalongan serta Kabupaten Batang tahun 2013 tercatat mencapai 70 persen dari total nilai produksi perusahaan batik di seluruh Jawa Tengah. Sementara, sebanyak lebih kurang 64 persen pekerja batik di Jawa Tengah adalah pekerja yang sehari-hari memproduksi batik di Kota Pekalongan dan sekitarnya.

Kiprah Batik Pekalongan di kancah nasional pun tidak kalah mengesankan. Data Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Pekalongan mencatat industri batik di kota ini menguasai 70 persen pasar batik nasional. Hal ini sejalan dengan jumlah industri batik yang terus tumbuh di Kota Pekalongan. Di tahun 2010 industri batik yang tercatat baru 631 unit. Angka ini meningkat hingga 36 persen di tahun 2013. Sampai dengan tahun lalu, angkanya melonjak menjadi 878 unit usaha.

Kepala Bidang Fungsional Perencana Disperindag Kota Pekalongan Veri Yudiyanto menyebutkan, meskipun industri batik tidak berdampak besar pada PAD, namun industri batik memiliki multi effect karena menyerap banyak tenaga kerja. “Batik menjadi salah satu sektor strategis di Pekalongan,” ungkapnya. Pemerintah daerah berperan memacu industri ini dengan pengembangan bisnis dan pasar, salah satunya dengan menggelar Pekan Batik Nasional setiap Hari Batik Nasional 2 Oktober. Tahun 2014 kota Pekalongan meraih predikat sebagai “Kota Kreatif Dunia” dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (Unesco) untuk kategori kerajinan dan kesenian rakyat.

Sekretaris Bappeda Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini menyebutkan pemerintah daerah berupaya mengenalkan batik secara formal melalui pendirian Politeknik Batik Pusmanu Pekalongan yang merupakan politeknik batik pertama di Indonesia. Selain itu juga dibuka progam studi batik di Universitas Pekalongan. Di tingkat sekolah, pemerintah daerah memasukkan muatan lokal batik di kurikulum SD sampai SMA. “Pemerintah berupaya mengilmiahkan batik, karena selama ini ilmunya hanya disampaikan turun temurun secara lisan,” jelas Anita.

Idealisme Batik

Dinamika industri batik di Pekalongan dan Batang tetap menyimpan persoalan. Ada sumber daya manusia yang luput dihargai dari karya batik yang bernilai. Daya tawar lemah memaksa hampir seluruh pekerja di sektor ini menerima upah rendah. Di Kota Pekalongan misalnya, mereka bekerja mulai pukul 08.00-16.00 dan menerima upah rata-rata Rp 10 ribu-Rp 25 ribu per hari. Artinya, rata-rata pekerja batik hanya menerima upah Rp 260 ribu-Rp 650 ribu per bulan. Hasil ini jauh di bawah besaran upah minimum di kota ini yang Rp 1,5 juta.

Kondisi ini dialami Damiah (65), perajin batik dari Pabean, Kota Pekalongan. Sudah 60 tahun lebih perempuan beranak satu ini menjalani kehidupannya sebagai pembatik. Untuk satu kain batik dalam produk jarik, sarung, dan selendang yang dicolet, Damiah hanya mendapatkan upah Rp 1.000. Dengan rata-rata lima kain batik yang diselesaikan, penghasilan Damiah sekitar Rp 50.000 dalam seminggu. “Dicukup-cukupkan mas, kadang satu kali menanak nasi bisa saya makan sampai 4-5 kali makan,” ujar Damiah.

Sebagian besar kehidupan perajin batik yang belum memadai disadari penuh oleh beberapa juragan batik. Nur Cahyo misalnya, memandang pembatik adalah aset dan keberadaannya harus dihargai ketika batik dinilai secara ekonomi. Ia mengritik proses industri batik yang selama ini meminggirkan para pembatik. Para juragan dan pedagang mampu membuat harga batik melambung, namun lupa pada nasib para pambatiknya.

Oleh karena itu, ia memberi upah 140 pembatik tulisnya Rp 45 ribu per hari, jauh di atas upah rata-rata para pembatik. Terkadang para pembatik ini juga memperoleh beras untuk dibawa pulang. Ini adalah idealisme batik.

Idealisme lain juga diterapkan Widianti Widjaja di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Widianti adalah generasi ke-3 Oey Soe Tjoen, pembatik Pekalongan sejak 1925 yang karyanya terkenal hingga kini. Di tangan Widianti, batik Oey lebih ekslusif karena hanya memproduksi berdasarkan pesanan yang kadang harus menunggu 2-3 tahun. Setiap proses produksi dikontrol langsung oleh Widianti.

Tidak jarang Widianti merasa tidak puas dengan hasil batiknya. Ia kerap meminta pembeli mengembalikan batik buatannya jika dirasa hasilnya tidak memuaskan, agar bisa disempurnakan lagi. Batik bagi Widianti bukan sekadar produk, namun juga proses panjang yang melibatkan kemantapan hatinya sebagai seorang pembatik. Inilah nilai batik sesungguhnya, bukan sekadar setitik canting yang dituangkan di kain mori.***

Sumber:
http://batik.print.kompas.com/batang-pekalongan/nilai-batik-tidak-setitik

No Comments

Post A Comment