fbpx

Malam Batik Tak Akan Dingin

canting-batik-pekalongan-batik-batang

15 Jul Malam Batik Tak Akan Dingin

Canting adalah ujung tombak karya batik. Peran canting dinyatakan secara lugas dalam konvensi nasional dan piagam UNESCO tanggal 2 Oktober 2009. Batik didefinisikan sebagai “proses pembuatan motif pada kain dengan metode perintangan warna menggunakan malam/lilin panas melalui media canting”.

Di tengah serbuan tekstil bermotif batik, keberadaan batik tulis dan cap di Pekalongan tetap hidup dan memiliki pasar tersendiri. Sejalan dengan itu juga sejumlah tangan terampil perajin masih berkarya, menempa, dan membentuk tembaga untuk dijadikan canting.

Hingga kini tersisa tiga perajin canting tulis di Kota Pekalongan. Dua perajin berlokasi di Kelurahan Kuripan Lor, Pekalongan Selatan. Perajin ketiga adalah Uzazi (75) di Kelurahan Landungsari, Pekalongan Timur. Setiap hari canting tulis Uzazi selalu habis diambil pengepul yang bermitra dengannya selama 48 tahun.

Bermodal Rp 500 ribu untuk membeli tembaga serta patri dan tutul sebagai perekat sambungan, Uzazi memproduksi rata-rata 300 canting per hari dengan harga jual Rp 2.000 per buah. Keuntungan bersih per hari Rp 60 ribu-Rp 100 ribu lalu dibagikan dengan dua pekerjanya. “Memang sedikit, tetapi langgeng. Canting yang saya buat sudah pasti dibeli oleh bakul,“ ujarnya.

Istilah langgeng juga dilontarkan Rohmat (50), perajin canting cap di Kuripan Lor. Dalam sebulan, Rohmat yang dibantu tiga karyawannya menghasilkan tiga set canting cap. Satu set canting cap yang digunakan untuk menghasilkan satu desain kain batik secara utuh dihargai sekitar Rp 2,5 juta. Separuh dari uang penjualan canting cap adalah milik karyawan. Setiap karyawan menerima Rp 1,25 juta dan Rohmat memperoleh Rp 3,75 juta. Setelah dikurangi biaya bahan baku Rp 2,1 juta untuk tiga set cap, Rohmat memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 1,65 juta per bulan. “Untuk produksi, alhamdulillah langgeng. Ada bakul yang pasti membeli canting cap saya,“ tutur Rohmat.

Di pasaran, pedagang pengepul memasarkan produk Uzazi dan Rohmat ke berbagai tempat. Canting tulis Uzazi biasa dijual di Pasar Banjarsari, Kota Pekalongan. Pembeli luar daerah berasal dari Lasem, Madura, serta luar Jawa seperti Jambi dan Lampung. Canting cap buatan Rohmat bahkan dipasarkan hingga ke Singapura.

Mengalir

Bagi Rohmat dan Uzazi, rejeki dari canting masih mengalir walaupun terasa sedikit. Keterikatan mereka pada bakul menjadi keterbatasan usaha mereka. “Kalau dua-tiga hari tidak setor, nanti bakulnya datang ke rumah menanyakan, apa baru sakit atau ada halangan. Udah hubungan lama, jadi nggak enak kalau nggak setor,” kata Uzazi.

Namun, tidak semua perajin mengikuti jejak Rohmat atau Uzazi. Usaha canting tulis Dimyati (56) di Kuripan Lor, berkembang pesat dan berkesinambungan. Dimyati yang sebelumnya adalah karyawan Uzazi, bahkan mengembangkan canting tulis sebagai produk cindera mata.

Dimyati memulai usahanya sejak 1999. Bermodalkan Rp 15.000, Dimyati hanya memproduksi 75 canting tulis per hari. Usahanya mulai berkembang sejak mengikuti pameran di Musem Batik Pekalongan tahun 2006. Pesanan lalu membanjir dari Jakarta, Cirebon, Bandung, Lasem, Batang, Surabaya, dan Madura. Pesanan canting Dimyati kini sedikitnya mencapai 1.000 buah, bahkan pernah menerima pesanan dari Madura 10.000 canting.

Usaha Dimyati kian besar sejak putranya, Sahal Mahfud, mulai mengembangkan pembuatan gantungan kunci berbentuk canting tulis. Suvenir yang dihargai Rp 2.500 per biji tersebut dipasarkan lewat jejaring sosial dan pasar online. Langkah ini pun menjadikan setiap bulan Dimyati mengumpulkan pendapatan rata-rata Rp 10 juta rupiah. Pernah juga dalam sebulan ia mengantongi Rp 50 juta.

Sedikit atau banyak, perajin canting tulis dan cap masih bisa menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan ini. Produksi yang tetap stabil menjadi salah satu penanda bahwa batik tulis dan batik cap tetap hidup di tengah gempuran tekstil bermotif batik. Rejeki akan tetap mereka peroleh, seperti malam batik yang akan tetap panas dan mengalir melalui canting.***

Sumber:
http://batik.print.kompas.com/batang-pekalongan/malam-batik-tak-akan-dingin

No Comments

Post A Comment